ADSENSE HERE!
Gabuuut: Mulai
tahun 2017, semua produk makanan yang dijual di Indonesia harus diberi label
halal atau tidak, sesuai Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan
Produk Halal. Inilah UU pertama di dunia yang mewajibkan label/sertifikasi
sebuah produk sebagai halal atau tidak halal.
Perusahaan-perusahaan
multinasional kosmetika dan perawatan tubuh, seperti L'Oreal, Unilever dan
Henkel sudah mengantisipasi kewajiban label ini dan melempar produk-produk
halal mereka ke pasaran. Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan menjadi pasar
terbesar dunia bagi produk-produk yang diklaim halal.
Para
produsen kosmetika dan perawatan menyatakan, labelisasi produk sebenarnya bukan
masalah besar dari segi biaya, tapi yang rumit dan makan waktu serta biaya
adalah administrasinya.
"Di
beberapa bagian dunia, tren ini membuka peluang bisnis baru, yaitu para
konsultan sertifikat, "kata Dirk Mampe dari perusahaan Kimia Jerman, BASF.
Di Indonesia, BASF sudah punya sertifikat halal untuk 145 produknya.
"Memang
ada tren, produk halal makin diminati konsumen. Jadi kepentingan untuk memasok
produk berlabel halal juga meningkat", tambah Dirk Mampe.
Para
produsen memang memperhitungkan pasar baru ini. Ada lebih 1,5 miliar umat muslim
di seluruh dunia. Yang paling pesat meningkat adalah omzet sektor kosmetika.
Menurut data Deloitte Tohmatsu Consulting, berbagai jenis kosmetika halal saat
ini sudah menguasai 11 persen dari pasar halal global, yang tahun 2015 bernilai
lebih dari 1 triliun dolar AS.
Sampai
tahun 2019, omset produk perawatan tubuh akan "'tumbuh 14 persen per
tahun" kata periset pasar TechNavio.
Raksasa
kosmetik Prancis L'Oreal di Indonesia sudah punya pabrik bersertifikat halal,
yang memasok pasar domestik dan kawasan Asia Tenggara. Sebagian besar produknya
dijual dibawah merek Garnier, mulai dari pembersih muka sampai krim pencerah
kulit yang bersertifikat halal.
Meraup
untung dari sertifikasi
Tapi
sertifikasi halal tidak selamanya mudah. Misalnya untuk krim kulit yang dibuat
di Indonesia dengan campuran banyak bahan atau rempah-rempah lain yang harus
diimpor dari luar negeri.
Otoritas
sertifikasi halal di Indonesia menuntut produsen memberikan bukti-bukti halal
dari semua pemasok bahan-bahan campuran itu. Bagi produsen, banyak hal jadi
rumit dan makan waktu. Tapi makin konsumen yang memang mencari produk
bersertifikat halal.
Sebuah
perusahaan konsultan online di Malaysia memanfaatkan celah bisnis ini, dan
menawarkan konfirmasi sertifikat halal dalam waktu cepat. DagangHalal membuat
database di situsnya www.DagangHalal.com dengan ribuan produk yang
bersertifikasi halal. Konsultannya juga menawarkan jasa kepada perusahaan untuk
mendapatkan label halal di satu negara.
DagangHalal
bekerja sama dengan lembaga-lembaga sertifikasi di berbagai negara. Menurut
keterangan sendiri, DagangHalal saat ini bekerjasama dengan 38 lembaga
sertifikasi dari berbagai.
DagangHalal
juga menawarkan produk-produk itu lewat situdnya. Tahun 2015, perusahaan ini
melaporkan pendapatan sekitar 5,6 juta ringgit Malaysia, atau senilai 1,4 juta
dolar AS. Ini berarti peningkatan lebih dari 60 perseb dibandingkan angka tahun
lalu.
DagangHalal
tahun 2016 masuk ke bursa London dan berhasil mengumpulkan dana senilai 4,7
juta dolar AS dari penawaran sahamnya.
Memahami
nilai-nilai lokal
Produk
non-halal memang tetap akan ada di toko-toko di Indonesia, tapi omsetnya
diperkirakan akan menurun.
"Rata-rata
konsumen Muslim di Indonesia tidak membeli produk yang sudah menulis larangan
di bungkusnya," kata Abdalhamid Evans dari Imarat Consultants.
Perusahaan
raksasa Unilever mengatakan, semua 9 pabriknya di Indonesia sudah memenuhi
standar halal. Unilever saat ini sedang berunding dengan pemasok untuk
bahan-bahan yang harus diimpor.
Persaingan
dengan produsen lokal memang bisa makin ketat dalam pemasaran produk-produk
berlabel halal, terutama kalau berurusan dengan regulasi, kata Alan Jope,
direktur divisi bisnis perawatan tubuh di Unilever. Tapi dia mengatakan dengan
yakin, perusahaannya sudah memahami nilai-nilai muslim secara umum di kawasan
pemasaran.
Dia
mengatakan, sekitar 90 persen konsumen Muslim dalam survey memang menyebutkan,
agama mereka menentukan pilihan produk yang mereka beli.
"Tapi
ada perbedaan cukup besar antara wanita Muslim di Indonesia dan seorang wanita
Muslim di Arab Saudi ketika menjalankan agamanya, dan itu ada pengaruhnya pada
pilihan-pilihan produk kecantikan mereka," kata dia.
Unilever
misalnya sudah memperkenalkan produk khusus seperti pasta gigi tahan lama bagi
mereka yang sedang berpuasa di bulan Ramadan.
Saingan
Unilever, Henkel, punya strategi serupa. Henkel menawarkan shampoo khusus untuk
"rambut di bawah kerudung".
"Tapi kita masih
perlu bekerja lebih baik dalam mencerminkan nilai-nilai Islam ketika
berkomunikasi dengan pelanggan, "kata Alan Jope. Dia misalnya ingin agar
iklan-iklan produk Unilever lebih banyak menggunakan gambar perempuan
berjilbab.(dw)
ADSENSE HERE!


No comments:
Post a Comment